Andai kita ibaratkan keimanan kita adalah status airworthiness dari diri kita.

Saat kita baru lahir, fresh from the factory, status airworthiness kita masih terjamin oleh manufacture.
Kondisi kita masih sesuai dengan Type Certificate (fitrah) kita.
Belum mempunyai discrapencies (dosa) yang dapat merusak status airworthiness diri kita.

Beranjak baligh, maka kita yang harus bertanggung jawab terhadap status airworthiness kita.
Sudah ada transfer of airworthiness dari manufacture kepada kita sebagai operator .

Apabila terjadi discrapencies2x dalam pengoperasian, maka merupakan tanggung jawab kita untuk segera melakukan troubleshoot dan rectification. Agar status airworthiness kita tetap terjaga.

Sebagai salah satu upaya menjaga status airworthiness, maka harus ada task-task (ibadah) yang harus kita kerjakan.
Task-task tersebut ada yang time controlled (ditentukan waktunya), ada yang tidak non time controlled (tidak ditentukan waktunya). Semua task tersebut sudah tercantum dalam dokumen MPD (Al-Qur’an) yang dikeluarkan oleh manufacture.

Dalam pengoperasian, terkadang ada beberapa kondisi yang memaksa kita untuk berubah,
yang mengharuskan kita melakukan modification.
Sebelum modifikasi tersebut dilakukan, harus dipastikan bahwa modifikasi tidak akan merusak status airworthiness.
Harus sesuai dengan TC kita, atau mendapatkan approval STC dari authority (Allah SWT).
Modifikasi tanpa approval adalah sesuatu yang ilegal (haram) dan merupakan violation (maksiat).

Pesawat terbang yang tidak airworthy, bukanlah pesawat terbang.
Hanyalah seonggok besi yang tidak boleh diterbangkan dan mempunyai harga rendah.
Begitu juga manusia tanpa iman dalam hatinya.

Renungan aircraft engineer di malam selasa🙂.